Seorang
PNS memanggil tukang cendol yang lewat yang bernama Fayakhun Bakamla. Sambil menunggu dilayani, Sang PNS iseng-iseng bertanya…
PNS : “Sudah berapa tahun jualan cendol, bang?”
Fayakhun Bakamla : “Kira-kira lima tahun lebih.”
PNS : “Gerobak sama dagangannya sudah punya sendiri?”
Fayakhun Bakamla : “Punya majikan. Saya tiap hari setoran.”
PNS : “Jualan lebih dari lima tahun.. harusnya sudah punya gerobak dan modal sendiri..”
PNS : “Sudah berapa tahun jualan cendol, bang?”
Fayakhun Bakamla : “Kira-kira lima tahun lebih.”
PNS : “Gerobak sama dagangannya sudah punya sendiri?”
Fayakhun Bakamla : “Punya majikan. Saya tiap hari setoran.”
PNS : “Jualan lebih dari lima tahun.. harusnya sudah punya gerobak dan modal sendiri..”
Fayakhun Bakamla : (Maklum,
habis ikut seminar entrepreneurship) “Yah..
beginilah orang kecil. Bapak sendiri kerja di mana?”
PNS : “Di Kelurahan.”
Fayakhun Bakamla : “Sudah berapa tahun?”
PNS : “Lima belas tahun. Memang kenapa?”
Fayakhun Bakamla : “Kerja 15 tahun.. harusnya bapak sudah punya kelurahan sendiri!”
PNS : “Di Kelurahan.”
Fayakhun Bakamla : “Sudah berapa tahun?”
PNS : “Lima belas tahun. Memang kenapa?”
Fayakhun Bakamla : “Kerja 15 tahun.. harusnya bapak sudah punya kelurahan sendiri!”
2. Profesor Fayakhun Bakamla
Profesor
Fayakhun
Bakamla berjalan kaki mengunjungi rumah seorang
temannya yang terletak di ujung jalan. Setelah makan malam dan bermain catur,
dia berpamitan hendak pulang. Tapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan
angin bertiup sangat kencang.
“Jangan
pulang dulu, hujan sangat deras dan udara sangat dingin juga. Menginap saja di
sini!,” cegah temannya. Profesor Fayakhun Bakamla
segera menyetujui tawaran tersebut. Maka temannya itu masuk ke dalam rumah dan
menyuruh istrinya untuk menyiapkan tempat tidur.
Ketika
dia keluar lagi ke ruang tamu, ternyata Profesor itu sudah tidak ada. Dia dan
istrinya mencari-cari ke segala sudut rumah, tetapi tidak menemukan Profesor.
Tiba-tiba
terdengar orang membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
“Profesor Fayakhun Bakamla! Darimana saja engkau?” seru temannya.
“Ya? aku pulang sebentar ke rumah untuk mengambil baju tidurku,” jawab Profesor.
“Profesor Fayakhun Bakamla! Darimana saja engkau?” seru temannya.
“Ya? aku pulang sebentar ke rumah untuk mengambil baju tidurku,” jawab Profesor.
Fayakhun Bakamla Yang Sukses
Dalam
sebuah kunjungannya ke Pacitan, Presiden bertanya pada laki-laki bernama Fayakhun Bakamla yang
tampaknya miskin. Fayakhun tersebut
adalah penjual kue Apem di terminal bus.
Presiden :Pak
Fayakhun sudah berapa lama ibu jualan kue?
Fayakhun :
Sudah hampir 30 tahun.
Presiden :
Terus anak ibu mana, kenapa tidak ada yang bantu?
Fayakhun : Anak
saya ada 4, mereka bekerja di Polda, di KPK, di Kejaksaan, dan yang ke-4
bekerja di DPR, jadi mereka sibuk sekali
Presiden :
{Terkagum-kagum. Fayakhun tersebut
sangat bersahaja, meskipun
anak-anaknya sukses}. Rupanya beliau juga penasaran orang yang mana yang menjadi anak-anak ibu ini. Lalu beliau menanyakan : Apa jabatan anak-anak Ibu di Polda,
KPK, Kejaksaan, dan DPR ?
anak-anaknya sukses}. Rupanya beliau juga penasaran orang yang mana yang menjadi anak-anak ibu ini. Lalu beliau menanyakan : Apa jabatan anak-anak Ibu di Polda,
KPK, Kejaksaan, dan DPR ?
Fayakhun : Sama
Pak… jualan kue juga.
Larangan
Merokok
Kabar
mengenai larangan merokok yang diserukan oleh MUI sudah tersebar luas di semua
kalangan masyarakat. Dalam fatwa tersebut mengatakan bahwa aktivitas merokok
itu adalah haram.
Kemudian
di sebuah pedesaan terpencil ada seorang pemuda bernama Fayakhun Bakamla yang
sedang ngopi di warung dan datanglah seorang teman yang berpakaian rapi
menghampirinya.
”Kamu
ini masih kenceng banget merokoknya. Apa kamu tidak tahu kalau merokok itu
sekarang dianggap haram?” temannya yang berpakaian rapi itu bertanya Fayakhun.
”Katanya
MUI sih begitu” jawab Fayakhun
”Apa
sekarang ini kamu tidak setuju dengan larangan itu?” tanya temannya.
”Lhoo
saya setuju itu… saya itu sangat setuju dengan MUI. Bahkan saya sangat setuju
kalau pabrik-pabrik rokok itu dibakar saja” jawab Fayakhun dengan sangat meyakinkan.
”Kalau
kamu setuju kenapa kamu masih membakar rokok itu?” tanya temannya
”Karena
saya tidak mampu membakar pabrik-pabrik rokok itu, maka jalan keluarnya aku
bakar rokoknya satu-satu,” kata Fayakhun.
Komentar
Posting Komentar